Pagelaran tiga hari yang diadakan di Halaman Masjid Miftahul Jannah menghadirkan 37 grup qosidah, dibuka langsung oleh Bupati Lampung Utara, Hamartoni — sebuah upaya nyata membina generasi muda dan melestarikan seni Islam di daerah.
Oleh: Tim Redaksi Gnotif — Lampung Utara
Agenda dan Pembukaan Resmi
Desa Mulang Maya, Kecamatan Kotabumi Selatan — Hari ini, masyarakat Desa Mulang Maya dan segenap warga Lampung Utara berkumpul merayakan dimulainya Festival Qosidah BungTon Ke-II. Acara yang digelar selama tiga hari ini resmi dibuka oleh Bupati Lampung Utara, H. DR. Ir. Hamartoni, Ahadis, M.Si. yang hadir untuk memberi dukungan moral sekaligus menandai komitmen pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian seni dan pembinaan generasi muda, Sabtu 20 September 2025.
Pembukaan ditandai dengan Pemukulan Gong Oleh Bupati Lampung Utara H. DR. Ir. Hamartoni Ahadis, M.Si. Sebagai Tanda Dibukanya Festival Qosidah Bung Ton Ke-II Dimulai. sambutan dari Bupati Lampung Utara, Ketua Panitia, Tokoh masyarakat, serta do’a bersama yang diikuti oleh seluruh peserta dan hadirin. Kehangatan dan antusiasme terlihat jelas sejak pagi hari, ketika masyarakat dari berbagai kecamatan berdatangan memenuhi Halaman Masjid Miftahul Jannah untuk menyaksikan penampilan pembuka.
Festival Qosidah BungTon Ke-II ini dirancang tidak hanya sebagai kompetisi, melainkan juga sebagai wadah pembinaan, pembelajaran, dan jejaring sosial bagi para pegiat seni qosidah di Lampung Utara. Rangkaian acara meliputi penampilan lomba, pentas seni, seminar singkat tentang pelestarian budaya, serta workshop vokal dan pembacaan syair untuk generasi muda.
Peserta dan Ragam Kategori Lomba
Pada penyelenggaraan tahun ini tercatat sebanyak 37 kelompok qosidah yang ikut ambil bagian. Peserta datang dari seluruh wilayah Kabupaten Lampung Utara, mewakili desa-desa dan kelurahan dari berbagai kecamatan. Kelompok peserta terdiri dari remaja, pemuda, hingga kelompok dewasa yang tetap aktif menjaga tradisi religi melalui qosidah.
Festival menyediakan beberapa kategori penilaian agar kompetisi berjalan adil dan mampu menilai aspek seni secara komprehensif. Beberapa kategori utama yang diperlombakan antara lain:
- Kategori vokal kelompok (remaja dan dewasa)
- Kategori kualitas aransemen rebana dan harmoni
- Kategori penampilan panggung dan ekspresi dakwah
- Kategori syair dan isi pesan dakwah
- Kategori kostum dan tata artistik islami
Penjurian dilakukan oleh dewan juri yang terdiri dari tokoh agama, budayawan lokal, praktisi seni qosidah yang berpengalaman, dan perwakilan pemerintah daerah. Standar penilaian menempatkan nilai religiositas dan kekayaan pesan dakwah pada posisi penting, di samping aspek teknis musik dan vokal.
Tujuan: Membina Generasi Muda dan Melestarikan Seni Islam
Izroni, salah satu inisiator kegiatan, menjelaskan kepada awak media bahwa tujuan utama festival ini adalah membina generasi muda sebagai penerus tradisi seni qosidah dan sekaligus sebagai media pendidikan nilai-nilai agama. “Harapan kami, kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan semakin berkembang di masa mendatang. Tujuan utamanya untuk membina generasi muda dan penerus bangsa,” ujar Izroni kepada awak media.
Pernyataan Izroni menggambarkan semangat strategis di balik pelaksanaan festival: bahwa seni qosidah hendaknya tidak sekadar dianggap sebagai tontonan, tetapi juga menjadi medium pendidikan, penyampaian nilai moral, serta sarana pemberdayaan komunitas lokal. Dengan adanya kompetisi yang sehat, generasi muda mendapat wadah berkreasi sekaligus pembelajaran teknis musik dan vokal yang terstruktur.
Tidak kalah penting, festival ini juga dimaksudkan sebagai ajang untuk menumbuhkan kebanggaan kultural. Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, identitas keagamaan serta tradisi lokal rentan mengalami penurunan. Festival semacam ini hadir untuk mempertegas bahwa seni qosidah tetap relevan dan dapat ditransformasikan agar lebih menarik bagi generasi muda tanpa mengorbankan nilai-nilai religiusnya.
Pelestarian Budaya dan Peran Qosidah
Seni qosidah merupakan salah satu bentuk ekspresi kebudayaan Islam yang memadukan musik, syair religius, dan seni vokal dalam konteks dakwah yang santun. Di Lampung Utara, qosidah memiliki akar kuat dalam tradisi keagamaan masyarakat, hadir dalam majelis taklim, peringatan keagamaan, hingga acara sosial kemasyarakatan lainnya.
Festival Qosidah BungTon Ke-II menempatkan qosidah sebagai medium dakwah yang efektif. Syair-syair yang dibawakan seringkali mengandung pesan moral, nilai keluarga, adab sosial, serta penguatan iman. Dengan cara penyajian yang kreatif—dengan variasi aransemen, harmonisasi rebana, dan kosakata dafah yang relevan—pesan dakwah menjadi lebih mudah diterima terutama oleh kelompok muda.
Selain aspek dakwah, qosidah juga berfungsi sebagai pengikat sosial. Ketika grup-grup qosidah datang dari berbagai desa untuk berkompetisi dan bersilahturahmi, terjadi pertukaran budaya yang memperkaya komposisi musik lokal. Ini penting untuk menjaga keragaman seni daerah sekaligus membuka peluang kolaborasi antar komunitas.
Antusiasme Warga dan Kehadiran Penonton
Sejak pagi, Halaman Masjid Miftahul Jannah dipenuhi pengunjung. Berdasarkan pengamatan panitia, jumlah penonton yang hadir pada hari pembukaan mencapai ratusan orang. Antusiasme tinggi terlihat pada momen-momen peserta menampilkan nomor terbaik mereka—tepuk tangan dan sorakan mengiringi setiap penampilan yang menyentuh emosi dan spiritual hadirin.
Kehadiran penonton tidak hanya dari Mulang Maya, tetapi juga dari berbagai wilayah di Lampung Utara, termasuk keluarga peserta yang datang untuk memberi dukungan moral. Keterlibatan masyarakat sebagai penonton aktif menjadi sumber semangat bagi para peserta, khususnya generasi muda yang merasakan langsung apresiasi atas usaha berkesenian mereka.
Selain menghadirkan hiburan berkualitas, acara ini juga menjadi medium ekonomi lokal. Pedagang makanan, minuman, dan penjual cinderamata lokal mendapat keuntungan dari arus pengunjung. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan kebudayaan skala lokal tidak hanya memberikan dampak sosial-kultural, tetapi juga berdampak positif pada perputaran ekonomi masyarakat setempat.
Workshop, Pembinaan, dan Transfer Keterampilan
Selain kompetisi, panitia menyediakan sejumlah sesi workshop dan pembinaan yang menjadi ruang transfer keterampilan bagi peserta. Workshop meliputi teknik vokal, pengaturan harmonisasi rebana, penulisan syair, serta etika pentas sebagai bentuk dakwah yang berseni. Narasumber workshop berasal dari praktisi qosidah tingkat provinsi dan tokoh seni lokal yang berpengalaman.
Sesi pembinaan diarahkan khususnya pada generasi muda agar mereka tidak hanya menjadi peniru, tetapi juga kreator yang mampu menghasilkan karya orisinal berwatak islami. Materi pembinaan juga menekankan pentingnya manajemen kelompok, pengelolaan acara, dan bagaimana memanfaatkan potensi digital untuk memperluas jangkauan penampilan qosidah ke ranah media sosial dan platform streaming sehingga memberi peluang bagi talenta lokal untuk dikenal lebih luas.
Dukungan Pemerintah Daerah dan Peran Bupati
Kehadiran Bupati Hamartoni pada pembukaan festival menandai dukungan penuh pemerintah daerah terhadap upaya pelestarian seni dan pembinaan generasi muda. Secara lisan, Bupati menyampaikan apresiasi terhadap inisiatif masyarakat dan panitia lokal yang tetap konsisten melestarikan qosidah sebagai bagian dari identitas budaya Lampung Utara.
Dukungan pemerintah tidak hanya simbolis. Dalam perencanaan jangka panjang, pemerintah daerah akan mempertimbangkan alokasi fasilitas pendukung, bantuan teknis untuk pembina seni lokal, serta program kerjasama dengan instansi pendidikan agar qosidah dapat hidup di lingkungan sekolah-sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Hal ini diharapkan menciptakan ekosistem yang mendukung regenerasi pelaku seni qosidah di Lampung Utara.
Selain itu, pemerintah daerah juga didorong untuk memfasilitasi agenda festival dengan dukungan logistik, perizinan yang lancar, dan promosi yang dapat menarik minat peserta dari provinsi lain sehingga Lampung Utara dapat menjadi tuan rumah festival qosidah berskala regional di masa depan.
Testimoni Peserta dan Penonton
Sejumlah peserta mengungkapkan kegembiraan sekaligus kebanggaan mengikuti festival. Mereka menyebutkan bahwa kesempatan tampil di acara skala kabupaten memberi pengalaman penting dalam pengembangan kualitas bermusik dan berorganisasi. Banyak peserta menilai bahwa evaluasi dari dewan juri akan menjadi bahan latihan untuk meningkatkan mutu penampilan di waktu mendatang.
Dari sisi penonton, orang tua peserta mengapresiasi adanya kegiatan positif yang membimbing anak-anak muda untuk berkarya dan beribadah melalui medium seni. Kata salah seorang penonton, “Acara seperti ini menenangkan dan mendidik. Anak-anak kami jadi punya aktivitas positif yang mencintai agama dan budaya.”
Testimoni ini menegaskan bahwa festival tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik — sebuah kombinasi ideal yang layak diteruskan dan dikembangkan.
Dampak Jangka Panjang bagi Komunitas Lokal
Jika dilanjutkan secara konsisten, festival qosidah memiliki beberapa manfaat strategis jangka panjang bagi Lampung Utara:
- Regenerasi Budaya: Membuka ruang bagi generasi muda untuk mempelajari dan meneruskan tradisi qosidah.
- Penguatan Identitas Lokal: Memperkokoh citra budaya Islam Lampung Utara sebagai bagian dari kekayaan daerah.
- Pemberdayaan Ekonomi Lokal: Mendorong aktivitas ekonomi kreatif di sekitar acara, seperti usaha kuliner dan kerajinan.
- Pendidikan Karakter: Menanamkan nilai-nilai religius dan etika bermasyarakat pada generasi penerus.
- Jejaring dan Kolaborasi: Menjadi wadah pertemuan bagi pelaku seni dari berbagai kecamatan sehingga membuka peluang kolaborasi artistik dan program lintas wilayah.
Manfaat-manfaat tersebut akan terus meningkat jika didukung oleh perencanaan jangka panjang, penganggaran yang memadai, serta sinergi antara komunitas, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah.
Logistik, Keamanan, dan Kenyamanan Penyelenggaraan
Panitia pelaksana festival bekerja sama dengan pihak desa, aparat keamanan setempat, dan relawan untuk menjamin kelancaran acara. Pengaturan tempat duduk penonton, jalur evakuasi, serta fasilitas kebersihan disiapkan agar kegiatan berlangsung aman dan nyaman.
Untuk mengantisipasi lonjakan pengunjung, panitia juga menyiapkan tenda medis sederhana dan pos informasi. Pengaturan parkir dilakukan secara terkoordinasi sehingga tidak terjadi kemacetan yang mengganggu aktivitas warga sekitar. Semua upaya ini difokuskan agar pengunjung dapat menikmati penampilan dengan tenang, serta peserta dapat tampil maksimal tanpa gangguan teknis.
Rencana Ke Depan dan Harapan Panitia
Panitia berharap Festival Qosidah BungTon Ke-II menjadi titik tolak penguatan tradisi qosidah di Lampung Utara. Sebagai langkah lanjutan, panitia bermaksud menjalin kerja sama dengan sekolah-sekolah, pesantren, dan instansi kebudayaan di provinsi untuk mengadakan kegiatan serupa dalam format kompetisi antar-kabupaten.
Selain itu, panitia juga sedang merancang dokumentasi digital berupa rekaman penampilan terbaik yang nantinya bisa diunggah ke saluran-saluran resmi guna mendokumentasikan perkembangan seni qosidah daerah. Dokumentasi ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian budaya dan sumber inspirasi bagi kelompok-kelompok muda lain.
Harapan terpenting adalah munculnya komunitas-komunitas kreatif baru yang menggabungkan tradisi qosidah dengan teknik musik modern tanpa menghilangkan muatan dakwah, sehingga qosidah tetap relevan di era digital dan dapat menggaet audiens yang lebih luas.
Penutup
Festival Qosidah BungTon Ke-II di Desa Mulang Maya adalah contoh nyata bahwa pelestarian seni religius dapat dipadukan dengan pembinaan generasi muda dan pemberdayaan komunitas lokal. Dengan partisipasi 37 kelompok dan dukungan penuh dari masyarakat serta pemerintah daerah, festival ini menunjukkan potensi besar Lampung Utara untuk menjadi pusat kegiatan kebudayaan Islam yang produktif dan berkelanjutan.
Semoga agenda ini tidak berhenti pada perayaan semata, melainkan berkembang menjadi program tahunan yang terstruktur serta menjadi bagian dari kurikulum informal di berbagai lembaga pendidikan. Jika terawat dengan baik, tradisi qosidah di Lampung Utara tidak hanya akan bertahan, tetapi akan tumbuh, berinovasi, dan menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai dan merawat warisan budaya bangsa.
(Laporan: Tim Gnotif — Desa Mulang Maya, Lampung Utara)


















0 Komentar