Gnotif Com | Jakarta Timur — Rabu, 12 November 2025
(Puspen TNI). Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal TNI Agus Subiyanto, didampingi Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau) Marsekal TNI M. Tonny Harjono, serta Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa, meninjau langsung pelaksanaan Gladi Model Latihan TNI 2025 yang digelar di Danau Tirta Asri, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (12/11/2025).
Latihan ini merupakan salah satu program strategis TNI untuk menguji kesiapan operasional, kemampuan komando, serta koordinasi antarmatra. Dalam konteks pertahanan nasional modern, Gladi Model menjadi pondasi penting untuk memastikan bahwa setiap satuan mampu melaksanakan tugas secara cepat, tepat, dan terukur dalam menghadapi berbagai bentuk ancaman, baik militer maupun non-militer.
Kegiatan dimulai dengan paparan oleh Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo selaku Penanggung Jawab Latihan atau Pimpinan Umum Latihan (Pimpum Lat). Ia menjelaskan secara rinci tentang tujuan, mekanisme, dan skenario latihan yang dirancang menyerupai kondisi nyata di medan operasi gabungan.
“Latihan ini merupakan bentuk kesiapan dan pengujian terhadap doktrin pertahanan yang kita miliki. Melalui Gladi Model, kita menilai kesiapan struktur komando, efektivitas pengambilan keputusan, serta koordinasi antara pasukan darat, laut, dan udara,” ujar Letjen Kunto dalam paparannya.
Fokus pada Sinergi dan Integrasi Operasi Antarmatra
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menegaskan bahwa latihan ini bukan sekadar formalitas, melainkan langkah nyata untuk memastikan kesiapsiagaan operasional TNI. Ia menekankan pentingnya sinergi antarmatra dalam menghadapi dinamika ancaman global yang semakin kompleks.
“Saya melihat pelaksanaan Gladi Model ini sudah berjalan dengan sistematis, realistis, dan sangat baik. Ini menunjukkan bahwa kesiapan kita semakin matang dan selaras dengan perkembangan teknologi pertahanan modern,” kata Panglima.
Lebih lanjut, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah menyiapkan Tactical Floor Game (TFG) dengan baik. “Saya mengucapkan terima kasih kepada para unsur pimpinan yang sudah melaksanakan Tactical Floor Game menggunakan Time Table dan model yang realistis. Ini sangat baik untuk diterapkan di lembaga pendidikan militer kita,” tambahnya.
Menurut Panglima TNI, kemampuan untuk memahami skenario taktis dan operasional di berbagai level komando menjadi hal krusial dalam mendukung efektivitas misi pertahanan. Latihan semacam ini memberikan ruang kepada setiap perwira untuk berpikir strategis, menganalisis ancaman, serta mengambil keputusan dalam situasi tekanan tinggi.
Gladi Model: Simulasi Strategis untuk Kesiapan Nasional
Latihan Gladi Model merupakan bagian integral dari program pelatihan TNI yang dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan. Latihan ini menjadi simulasi strategis yang mengintegrasikan seluruh unsur pertahanan, mulai dari perencanaan operasi, komando kendali, hingga evaluasi lapangan.
Dalam pelaksanaan tahun 2025 ini, TNI mengusung tema “Meningkatkan Profesionalisme dan Sinergi Antarmatra dalam Rangka Menjaga Keutuhan NKRI di Era Dinamika Global”. Tema ini sejalan dengan visi besar TNI untuk membangun kekuatan pertahanan yang tangguh, modern, dan berkarakter nasionalis.
Pelaksanaan Gladi Model juga berfungsi sebagai sarana validasi atas konsep-konsep operasi gabungan yang disusun berdasarkan doktrin pertahanan negara. Setiap tahapan latihan melibatkan simulasi situasi darurat seperti ancaman siber, konflik perbatasan, penanggulangan teror, hingga operasi kemanusiaan dalam kondisi bencana alam.
“Latihan ini bukan sekadar pengulangan taktik tempur, tetapi juga pengujian sistem perencanaan yang adaptif terhadap ancaman masa depan. Semua skenario dirancang dengan mempertimbangkan situasi geopolitik terkini di kawasan Indo-Pasifik,” ujar Letjen Kunto menambahkan.
Transformasi Digital dan Modernisasi Sistem Pertahanan
Sejalan dengan perkembangan zaman, TNI terus mengintegrasikan teknologi digital dalam sistem latihan dan operasinya. Gladi Model tahun ini menjadi momentum penting untuk menguji efektivitas sistem komunikasi dan komando berbasis jaringan digital yang dikembangkan oleh TNI bersama industri pertahanan nasional.
Panglima TNI menegaskan bahwa transformasi digital merupakan bagian dari visi besar untuk mewujudkan TNI yang modern dan efisien. “Teknologi bukan hanya alat bantu, tetapi bagian dari sistem pertahanan itu sendiri. Kita harus mampu mengintegrasikan semua unsur—darat, laut, udara, dan siber—dalam satu jaringan komando yang solid,” tegas Jenderal Agus Subiyanto.
Dalam latihan ini, digunakan pula sejumlah perangkat taktis modern, seperti drone pengintai produksi PT Dirgantara Indonesia, kendaraan taktis Pindad, serta sistem komunikasi terenkripsi hasil kolaborasi dengan industri pertahanan dalam negeri. Penggunaan produk lokal ini menunjukkan komitmen TNI terhadap kemandirian pertahanan nasional.
Langkah tersebut sekaligus menjadi wujud nyata sinergi antara TNI dan Kementerian Pertahanan dalam mendorong ekosistem industri pertahanan domestik agar mampu bersaing di tingkat global.
Profesionalisme Prajurit Sebagai Kunci Kekuatan TNI
Panglima TNI menegaskan bahwa modernisasi alutsista tidak akan berarti tanpa diimbangi dengan profesionalisme prajurit. Oleh karena itu, setiap latihan harus mengandung nilai pendidikan dan pembentukan karakter keprajuritan yang kuat.
“Latihan ini bukan hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga membangun karakter disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab. Prajurit TNI harus mampu berpikir cepat, bertindak tepat, dan menjaga moralitas dalam setiap kondisi,” ujar Panglima.
Ia menambahkan bahwa semangat profesionalisme inilah yang menjadi dasar keberhasilan TNI selama ini dalam menjaga kedaulatan Indonesia. “Kekuatan TNI bukan hanya di senjata, tetapi pada manusianya. Karena itu, setiap latihan adalah investasi untuk masa depan pertahanan kita,” ujarnya.
Para peserta latihan pun menunjukkan semangat tinggi dalam menjalankan setiap tahapan simulasi. Koordinasi antara TNI AD, TNI AL, dan TNI AU tampak berjalan efektif, menunjukkan bahwa konsep interoperabilitas yang menjadi tujuan utama latihan ini telah terwujud dengan baik.
Menjawab Tantangan Keamanan Global dan Regional
Latihan Gladi Model tahun 2025 tidak hanya berfokus pada ancaman domestik, tetapi juga merespons perubahan geopolitik kawasan Indo-Pasifik. Dalam beberapa tahun terakhir, dinamika global menunjukkan adanya pergeseran kekuatan dan meningkatnya tensi di wilayah perbatasan laut strategis.
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, memiliki peran vital dalam menjaga stabilitas keamanan regional. Oleh karena itu, kesiapan TNI menjadi faktor penting dalam memastikan Indonesia tetap menjadi negara yang berdaulat dan berpengaruh di kawasan.
Panglima TNI menegaskan bahwa TNI harus mampu beradaptasi dengan berbagai bentuk ancaman modern, termasuk perang siber, propaganda digital, hingga infiltrasi informasi. “Kita tidak hanya berhadapan dengan musuh yang terlihat. Saat ini, ancaman bisa datang dari ruang digital, dari opini publik, bahkan dari ruang informasi yang salah arah. Oleh karena itu, TNI harus tanggap di semua lini,” ujarnya.
Latihan ini juga menjadi wadah evaluasi terhadap kemampuan sistem pertahanan siber nasional, termasuk koordinasi antara pusat komando siber TNI dan lembaga negara lain seperti BSSN dan BIN. Kolaborasi lintas lembaga ini dinilai penting untuk memastikan keutuhan pertahanan nasional dalam menghadapi ancaman hybrid.
Evaluasi dan Rencana Pengembangan Latihan Ke Depan
Di akhir kegiatan, Panglima TNI memberikan arahan agar seluruh hasil latihan dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas latihan berikutnya. Ia meminta agar semua data, analisis, dan temuan selama gladi model didokumentasikan dengan baik sebagai referensi untuk pengembangan doktrin operasional TNI.
“Kita harus belajar dari setiap pelaksanaan latihan. Evaluasi ini penting agar ke depan latihan bisa lebih efisien, realistis, dan mampu menjawab kebutuhan pertahanan modern,” ujarnya.
Pangkogabwilhan I Letjen Kunto Arief Wibowo juga menambahkan bahwa hasil Gladi Model 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dalam koordinasi dan respons cepat antar satuan. Ia berharap momentum ini menjadi dasar penguatan latihan bersama lintas matra di masa mendatang.
“Dengan adanya Gladi Model ini, kita bisa melihat dengan jelas sejauh mana kesiapan dan koordinasi setiap satuan. Ini menjadi acuan penting untuk mempersiapkan latihan gabungan TNI dalam skala yang lebih besar,” ungkapnya.
Penutup: TNI Siap Menjaga Kedaulatan NKRI
Latihan Gladi Model TNI 2025 menjadi refleksi dari semangat TNI untuk terus bertransformasi menghadapi tantangan zaman. Melalui latihan terpadu yang terencana dan terukur, TNI menunjukkan komitmen kuat untuk memperkuat profesionalisme prajurit dan sinergi antarmatra dalam menjaga keutuhan NKRI.
Dengan semangat “TNI Prima, TNI Patriot NKRI, NKRI Harga Mati, dan TNI Kuat Rakyat Bermartabat”, kegiatan ini menegaskan kembali bahwa pertahanan nasional Indonesia tidak hanya bertumpu pada kekuatan senjata, tetapi juga pada moral, integritas, dan kecintaan terhadap tanah air.
Panglima TNI berharap hasil dari latihan ini dapat diterapkan dalam setiap operasi nyata, baik dalam konteks pertahanan maupun kemanusiaan. “Kesiapan adalah segalanya. Dengan latihan yang baik, kita siap menghadapi setiap ancaman yang mencoba mengganggu kedaulatan dan keamanan bangsa,” pungkas Jenderal Agus Subiyanto.
Autentikasi: Kabidpenum Puspen TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi#tniprima #tnipatriotnkri #nkrihargamati #tnikuatrakyatbermartabat
Sumber: Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) | Editor: Redaksi Gnotif




0 Komentar