Gnotif. Com, Langkat — Banjir yang melanda Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, bukan hanya merendam ribuan rumah warga, tetapi juga menghadirkan penderitaan berlapis-lapis yang hingga kini belum mendapatkan penanganan maksimal dari pemerintah. Desa Pematang Tengah menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah, di mana ribuan jiwa saat ini menghadapi situasi penuh keputusasaan akibat minimnya perhatian dan bantuan dari pihak terkait.
Sejak hari pertama banjir datang, kehidupan warga berubah drastis. Aktivitas publik lumpuh total. Rumah yang sehari-hari menjadi tempat perlindungan kini hanya menyisakan atap dan dinding yang terendam air setinggi pinggang hingga dada orang dewasa. Tidak hanya kehilangan tempat tinggal sementara, warga juga kehilangan akses terhadap listrik, air bersih, bahan makanan, hingga komunikasi. Semua kondisi tersebut membuat masyarakat Desa Pematang Tengah seolah menghadapi bencana kemanusiaan yang belum terurai.
Bencana alam ini diperparah oleh lambatnya penanganan dari pemerintah daerah dan provinsi. Warga mengaku belum pernah melihat posko utama, dapur umum, ataupun kehadiran tim BPBD secara langsung sejak banjir melanda lima hari lalu. Keluhan demi keluhan bermunculan, menyuarakan keresahan mendalam dari warga yang sejak awal hanya mengandalkan kemampuan masing-masing untuk bertahan hidup.
Air Masih Menggenang, Warga Kehilangan Akses Dasar
Hingga Senin (1/11/2025), banjir masih terus merendam pemukiman. Dalam beberapa titik, ketinggian air bahkan terus meningkat akibat hujan yang tidak kunjung reda. Warga tidak berani kembali ke rumah untuk mengambil sisa barang-barang karena derasnya arus banjir yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan.
Di beberapa sudut desa, terlihat warga mengikat barang-barang penting seperti pakaian dan dokumen ke dalam plastik besar sambil membawa anak-anak mereka mengungsi ke musala, balai desa, atau rumah warga yang berada di lokasi lebih tinggi. Namun, upaya bertahan ini masih jauh dari kata layak. Ruangan sempit dipadati puluhan orang, tanpa alas tidur memadai, tanpa dinding penghalang angin malam, tanpa air bersih, dan tanpa stok makanan yang mencukupi.
Banyak ibu yang kesulitan mendapatkan susu formula untuk balita mereka, sementara para lansia mengeluhkan tidak adanya obat-obatan yang seharusnya rutin mereka konsumsi. Beberapa warga bahkan dilaporkan mulai jatuh sakit karena kondisi lingkungan yang lembap, dingin, dan tidak higienis.
Listrik Padam Lima Hari, Desa Gelap Gulita
Padamnya listrik selama lima hari berturut-turut sejak Rabu (26/11/2025) memperburuk keadaan secara signifikan. Suasana malam di Desa Pematang Tengah berubah menjadi gelap gulita, menambah rasa takut bagi anak-anak yang sudah trauma dengan derasnya arus banjir. Para orang tua mencoba menenangkan mereka dengan menyalakan lilin seadanya, namun itu pun tidak dapat bertahan lama.
Lampu darurat, powerbank, dan sumber listrik alternatif lain sebagian besar sudah habis. Beberapa warga yang memiliki genset memilih untuk mematikannya demi menghemat bahan bakar yang sudah tidak bisa didapatkan lagi sejak akses jalan ke desa terputus. Dalam situasi ini, kekhawatiran akan keselamatan meningkat karena gelapnya lingkungan rentan menyebabkan kecelakaan, terutama bagi warga lansia dan anak-anak yang tinggal di tempat pengungsian darurat.
Jaringan Internet & Komunikasi Putus Total
Tidak hanya listrik, jaringan internet serta sinyal telepon seluler juga padam sepenuhnya. Warga benar-benar tidak dapat menghubungi siapa pun, termasuk keluarga di luar daerah yang ingin mengetahui kabar kondisi mereka. Situasi ini menyebabkan Desa Pematang Tengah seolah terputus dari dunia luar, tanpa akses untuk melapor, meminta bantuan, atau sekadar mencari informasi terkait perkembangan banjir.
Beberapa warga bahkan mencoba berjalan jauh melewati banjir menuju titik-titik yang lebih tinggi untuk mencari sinyal. Namun, upaya tersebut sia-sia lantaran kerusakan jaringan terjadi hampir di seluruh kawasan Tanjung Pura. Kondisi ini membuat bantuan yang seharusnya cepat diterima justru terhambat karena kurangnya informasi yang sampai kepada pihak pemerintah.
Bantuan Sembako Tak Kunjung Datang
Salah satu keluhan terbesar warga adalah tidak adanya bantuan sembako dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara maupun Pemerintah Kabupaten Langkat. Sejak banjir melanda, belum satu pun paket bantuan yang diterima warga Desa Pematang Tengah. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan, mengingat kebutuhan pangan merupakan hal paling mendesak bagi masyarakat yang sedang menghadapi bencana.
Sejumlah tokoh masyarakat menegaskan bahwa hingga hari kelima, tidak ada kehadiran dari pihak BPBD yang mendirikan posko darurat atau melakukan pendataan warga terdampak. Situasi ini membuat warga beranggapan bahwa nasib mereka benar-benar tidak diperhatikan oleh pemerintah.
“Dari awal sampai sekarang tidak ada bantuan apa pun dari pemerintah. Tidak ada posko, tidak ada sembako, tidak ada petugas yang datang mendata atau mengecek kondisi warga,” tegas Revo, warga Desa Pematang Tengah.
Ia menjelaskan bahwa warga sudah kehabisan stok makanan yang dibawa dari rumah. Beberapa warga yang masih memiliki sisa bahan makanan terpaksa membaginya kepada pengungsi lain yang sudah sama sekali tidak memiliki persediaan.
Warga Mulai Terancam Kelaparan
Situasi semakin mengkhawatirkan ketika laporan mengenai warga yang terancam kelaparan mulai muncul. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling terdampak karena kondisi fisik mereka yang lebih rentan. Tanpa makanan yang cukup, daya tahan tubuh mereka menurun dan lebih mudah terserang penyakit.
Beberapa warga bahkan mengaku sudah tidak makan selama lebih dari 24 jam karena persediaan pangan benar-benar habis. Dalam kondisi darurat seperti ini, warga terpaksa melakukan berbagai cara untuk bertahan hidup. Salah satu fenomena yang muncul adalah tindakan pengambilan barang dari toko modern atau minimarket yang terendam banjir.
Revo membenarkan bahwa beberapa warga terpaksa mengambil makanan dan kebutuhan pokok dari sebuah Alfamart yang berada di dekat kawasan terdampak. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan tersebut bukanlah aksi kriminal, tetapi bentuk desperasi karena tidak adanya bantuan dari pemerintah.
“Bukan kami mau mencuri. Tapi bagaimana lagi? Anak-anak sudah lapar, ibu-ibu dan orang tua sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dimakan. Ini keadaan darurat,” katanya.
Pemerintah Desa Ikut Kesulitan
Pemerintah desa pun tidak dapat berbuat banyak. Keterbatasan sumber daya, minimnya akses, serta tidak adanya bantuan dari pemerintah kabupaten membuat mereka kewalahan dalam menangani ribuan warga yang terdampak. Kepala desa dan perangkatnya mengaku telah berulang kali mencoba menghubungi pihak kecamatan, namun tidak dapat terhubung karena jaringan komunikasi lumpuh.
Mereka hanya bisa memberikan bantuan sebisanya, termasuk membuka balai desa sebagai tempat pengungsian meskipun fasilitasnya jauh dari memadai. Perangkat desa juga mencoba menenangkan warga yang panik dengan memberikan penjelasan dan himbauan agar tetap bersabar menunggu bantuan, namun situasi semakin sulit karena kebutuhan darurat tidak dapat ditunda.
Ancaman Penyakit Mulai Bermunculan
Selain kelaparan, ancaman kesehatan kini mulai dirasakan para pengungsi. Air banjir yang menggenang selama berhari-hari menyebabkan berbagai penyakit mulai bermunculan. Anak-anak mengalami batuk, flu, dan demam. Banyak warga mengeluhkan gatal-gatal karena terlalu lama berada di area lembap dan kotor.
Air bersih menjadi barang langka. Warga terpaksa menggunakan air banjir untuk mandi dan mencuci, meskipun mereka sadar hal tersebut berbahaya bagi kesehatan. Untuk minum, sebagian warga masih memiliki sedikit persediaan air galon, namun jumlahnya tidak cukup untuk kebutuhan ribuan orang.
Ketiadaan tenaga medis di lokasi pengungsian semakin memperburuk keadaan. Beberapa warga yang memiliki penyakit bawaan seperti hipertensi, diabetes, dan asma terpaksa bertahan tanpa obat-obatan karena tidak dapat membeli atau mendapatkannya dari posko kesehatan yang tidak pernah hadir.
Keselamatan Anak-Anak dan Lansia dalam Ancaman
Salah satu kelompok paling rentan dalam bencana adalah anak-anak dan lansia. Kondisi pengungsian yang penuh sesak tanpa fasilitas memadai membuat mereka berada dalam risiko tinggi. Anak-anak mudah jatuh sakit, kehilangan nafsu makan, dan mengalami trauma psikis akibat suasana mencekam selama banjir.
Sementara itu, lansia kesulitan bergerak dan membutuhkan perawatan khusus. Banyak dari mereka yang menggigil kedinginan di malam hari karena tidak ada selimut atau alas tidur. Beberapa warga bahkan melaporkan adanya lansia yang kehilangan kesadaran akibat kelelahan dan kurang makan.
Tidak Ada Posko BPBD, Warga Merasa Diabaikan
Minimnya kehadiran pemerintah dan BPBD dalam penanganan banjir ini menjadi sorotan utama warga. Mereka merasa tidak diperhatikan dan tidak dilindungi sebagaimana mestinya dalam situasi bencana. Tidak adanya pendataan membuat bantuan tidak mengalir dan membuat warga bingung ke mana harus meminta tolong.
Sejumlah warga menilai bahwa bencana ini seolah masih dianggap remeh, padahal dampaknya sudah sangat parah hingga memutus akses listrik dan komunikasi selama hampir satu minggu.
Harapan Terakhir Warga: Pemerintah Segera Turun Tangan
Warga Pematang Tengah kini hanya berharap satu hal: kehadiran pemerintah. Mereka menantikan bantuan dalam bentuk apa pun, mulai dari sembako, air bersih, obat-obatan, hingga tim medis dan penyelamat yang dapat membantu evakuasi warga yang masih terjebak di rumah.
“Kami hanya ingin hidup. Tolong pemerintah datang. Jangan biarkan kami seperti ini,” ujar Revo lirih.
Harapan warga sangat sederhana: mereka ingin selamat dan ingin pemerintah hadir dalam kondisi terburuk yang mereka alami saat ini. Bencana ini menjadi pengingat betapa pentingnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi krisis.
Editor: Pariyo Saputra
Dampak Bencana Alam Banjir, Warga Pematang Tengah Lengkap Penderitaan dan Terancam Kelaparan – (Gnotif. Com)






0 Komentar