Jakarta Barat (Gnotif. Com) – Guna mencegah terjadinya tawuran antar remaja dan pelajar yang kerap menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, Polres Metro Jakarta Barat melaksanakan kegiatan Bimbingan dan Penyuluhan (Binluh) Antisipasi Tawuran yang berlangsung di Kantor RW 11 Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat, pada Senin (26/01/2026) pukul 13.00 WIB.
Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi preventif Polres Metro Jakarta Barat dalam menekan angka kenakalan remaja, khususnya aksi tawuran yang berpotensi menimbulkan korban jiwa, kerusakan fasilitas umum, serta trauma psikologis baik bagi pelaku, korban, maupun masyarakat sekitar.
Binluh tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat kepolisian dan unsur masyarakat, di antaranya Kabagren Polres Metro Jakarta Barat Kompol Leny Winarti, S.H., M.M., Wakapolsek Grogol Petamburan Kompol Yulianto, Kanit Binmas AKP Suwarto, Kapolsubsektor Tomang Iptu Sulystyo, Bhabinkamtibmas Kelurahan Tomang Aiptu Aprianto, Ketua RW 11 Bapak Purwanto, para Ketua RT, serta warga RW 11 Kelurahan Tomang.
Kehadiran unsur kepolisian bersama tokoh masyarakat dan warga ini mencerminkan kuatnya komitmen bersama dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif, khususnya bagi tumbuh kembang generasi muda di wilayah Kelurahan Tomang.
Dalam arahannya, Kabagren Polres Metro Jakarta Barat Kompol Leny Winarti menyampaikan bahwa fenomena tawuran remaja hingga saat ini masih menjadi persoalan sosial yang serius, terutama di wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan dinamika sosial yang tinggi.
"Tawuran kerap terjadi akibat keinginan remaja untuk menunjukkan jati diri ke arah yang salah. Mereka ingin diakui, ingin dianggap hebat oleh kelompoknya, namun menyalurkannya melalui cara yang keliru dan berbahaya," ujar Kompol Leny Winarti.
Ia menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase pencarian identitas diri. Apabila tidak dibarengi dengan pendampingan yang tepat dari keluarga dan lingkungan, maka remaja sangat rentan terpengaruh oleh ajakan negatif, termasuk untuk terlibat dalam aksi kekerasan seperti tawuran.
Menurut Kompol Leny, dalam banyak kasus, tawuran tidak terjadi secara spontan, melainkan melalui proses yang cukup panjang, mulai dari saling ejek, provokasi, hingga ajakan berkumpul yang kemudian berujung pada bentrokan fisik.
Ia menegaskan bahwa peran orang tua sangat penting dalam melakukan pengawasan dan pendekatan psikologis kepada anak-anak. Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan larangan, tetapi juga membangun komunikasi yang terbuka agar anak merasa diperhatikan dan dihargai.
"Oleh karena itu, peran orang tua sangat penting dalam melakukan pengawasan dan pendekatan psikologis kepada anak-anak, termasuk mengetahui pergaulan, teman bermain, serta aktivitas anak di media sosial yang kerap menjadi sarana ajakan negatif," lanjut Kompol Leny.
Dalam era digital saat ini, media sosial menjadi salah satu faktor yang turut mempengaruhi meningkatnya potensi tawuran. Kompol Leny menjelaskan bahwa tidak sedikit kasus tawuran yang diawali dari unggahan, komentar, atau pesan provokatif di media sosial.
Konten yang mengandung tantangan, ejekan, atau ajakan berkumpul sering kali menjadi pemicu konflik antar kelompok remaja. Oleh karena itu, orang tua diimbau untuk lebih aktif mengawasi penggunaan gawai dan media sosial oleh anak-anak mereka.
Lebih lanjut, Kompol Leny juga menegaskan bahwa tawuran tidak membawa dampak positif, baik bagi pelaku maupun korban. Selain risiko luka-luka, tawuran juga dapat menimbulkan dampak hukum yang serius bagi para pelakunya.
"Meskipun masih di bawah umur, pelaku tawuran tetap dapat diproses hukum, terlebih apabila membawa senjata tajam, menyebabkan luka berat, atau bahkan menghilangkan nyawa seseorang. Ini akan berdampak panjang bagi masa depan anak-anak kita," tegasnya.
Ia menambahkan bahwa proses hukum dapat mempengaruhi pendidikan, masa depan karier, serta kondisi psikologis anak. Oleh karena itu, pencegahan sejak dini menjadi langkah yang jauh lebih baik dibandingkan penindakan setelah kejadian.
Dalam kesempatan tersebut, Kompol Leny juga mengimbau para orang tua agar membatasi jam malam anak-anak. Ia menyarankan agar pukul 22.00 WIB anak sudah berada di rumah, sehingga orang tua dapat memastikan anak dalam kondisi aman.
Imbauan ini disambut positif oleh para orang tua yang hadir. Banyak di antara mereka yang mengakui bahwa pengawasan terhadap anak pada malam hari menjadi tantangan tersendiri, terutama di lingkungan perkotaan dengan aktivitas yang berlangsung hingga larut malam.
Selain peran keluarga, Kompol Leny juga menekankan bahwa pencegahan tawuran bukan hanya menjadi tanggung jawab kepolisian semata, melainkan tugas bersama seluruh elemen masyarakat.
"Pencegahan tawuran adalah tanggung jawab kita bersama. Polisi tidak bisa bekerja sendiri. Keluarga, tokoh masyarakat, pengurus RT dan RW, serta seluruh warga harus saling bekerja sama," ujarnya.
Salah satu upaya konkret yang disarankan adalah mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling) secara terjadwal di wilayah masing-masing. Dengan adanya siskamling, potensi gangguan keamanan dapat terdeteksi lebih dini.
Wakapolsek Grogol Petamburan Kompol Yulianto dalam kesempatan tersebut juga menegaskan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan patroli di wilayah-wilayah yang dianggap rawan terjadinya tawuran.
"Kami siap untuk terus meningkatkan patroli dan kegiatan preventif. Namun, kami juga sangat membutuhkan peran aktif masyarakat dalam memberikan informasi apabila melihat adanya potensi gangguan kamtibmas," ujar Kompol Yulianto.
Kanit Binmas AKP Suwarto menambahkan bahwa pembinaan masyarakat merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga keamanan lingkungan. Ia mengajak warga untuk tidak ragu berkomunikasi dengan pihak kepolisian apabila terdapat permasalahan di lingkungan.
AKP Suwarto juga mendorong agar para remaja lebih aktif mengikuti kegiatan positif, seperti olahraga, kegiatan keagamaan, dan kegiatan sosial, sebagai sarana penyaluran energi dan ekspresi diri yang lebih sehat.
Sementara itu, Ketua RW 11 Kelurahan Tomang, Bapak Purwanto, menyampaikan apresiasi kepada Polres Metro Jakarta Barat atas perhatian dan kepeduliannya terhadap kondisi keamanan di wilayahnya.
"Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Dengan adanya penyuluhan seperti ini, warga menjadi lebih paham tentang bahaya tawuran dan pentingnya peran orang tua serta lingkungan," ujar Purwanto.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan secara berkelanjutan, sehingga pesan-pesan pencegahan dapat terus disampaikan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Para warga yang hadir juga tampak antusias mengikuti kegiatan tersebut. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi terkait langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk menjaga anak-anak agar tidak terlibat dalam tawuran.
Beberapa warga menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap pengaruh lingkungan luar, termasuk pergaulan lintas wilayah yang terkadang sulit dikontrol oleh orang tua.
Kegiatan Binluh ini tidak hanya menjadi ajang penyampaian materi, tetapi juga menjadi sarana dialog antara kepolisian dan masyarakat. Dengan komunikasi yang terbuka, diharapkan setiap permasalahan dapat ditangani secara bersama-sama.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta sepakat bahwa pencegahan tawuran harus dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Orang tua diharapkan menjadi figur teladan, sekaligus sahabat bagi anak-anak, sehingga anak merasa nyaman untuk berbagi cerita dan permasalahan.
Kegiatan penyuluhan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol sinergi dan komitmen bersama antara Polri dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang aman, tertib, dan kondusif.
Polres Metro Jakarta Barat menegaskan komitmennya untuk terus melaksanakan kegiatan edukatif dan preventif sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya tawuran semakin meningkat, serta terbangun kerja sama yang kuat antara kepolisian, orang tua, dan lingkungan dalam menjaga generasi muda dari pengaruh negatif.
(Humas Polres Metro Jakarta Barat)
Editor Redaksi Gnotif. Com



0 Komentar