Silaturahmi Lebaran 1447 H, Pariyo Saputra dan Keluarga Kunjungi Tiyuh Gunung Katun Tanjungan

Tulang Bawang Barat, (Gnotif.com) — Momentum Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriyah Tahun 2026 Masehi menjadi waktu yang penuh makna bagi umat Muslim untuk mempererat tali silaturahmi, memperkuat hubungan kekeluargaan, serta menumbuhkan kembali nilai-nilai kebersamaan yang mungkin sempat terabaikan dalam rutinitas kehidupan sehari-hari.

Hal tersebut juga dilakukan oleh Pariyo Saputra bersama keluarga besarnya yang memanfaatkan hari ketiga Lebaran untuk melakukan kunjungan silaturahmi ke Tiyuh Gunung Katun Tanjungan, Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), pada Senin (23 Maret 2026).

Kegiatan tersebut tidak hanya sekadar kunjungan biasa, namun menjadi rangkaian penuh makna yang meliputi silaturahmi dengan keluarga besar, ziarah ke makam leluhur, hingga ditutup dengan makan bersama sebagai simbol kebersamaan dan kekompakan keluarga.

Lebaran sebagai Momentum Mempererat Silaturahmi

Hari Raya Idul Fitri merupakan momen yang sangat dinanti oleh seluruh umat Muslim. Setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh di bulan Ramadan, Idul Fitri menjadi hari kemenangan yang dirayakan dengan penuh suka cita.

Namun lebih dari sekadar perayaan, Lebaran juga memiliki makna yang mendalam sebagai waktu untuk saling memaafkan, mempererat hubungan, serta memperkuat tali silaturahmi antar keluarga dan kerabat.

Pariyo Saputra menyampaikan bahwa kegiatan silaturahmi ini merupakan bagian dari tradisi keluarga yang selalu dijaga setiap tahunnya.

“Lebaran adalah momen terbaik untuk berkumpul bersama keluarga. Kita bisa saling memaafkan dan mempererat hubungan yang mungkin jarang terjalin karena kesibukan masing-masing,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa menjaga hubungan kekeluargaan merupakan hal yang sangat penting, karena keluarga adalah tempat pertama dan utama dalam kehidupan setiap individu.

Perjalanan Menuju Kampung Halaman

Perjalanan menuju Tiyuh Gunung Katun Tanjungan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian kegiatan ini. Bersama keluarga, Pariyo Saputra menempuh perjalanan dengan penuh semangat demi dapat berkumpul dengan sanak saudara.

Sepanjang perjalanan, suasana penuh kebersamaan sudah terasa. Canda tawa, cerita ringan, hingga kenangan masa lalu menjadi pengisi waktu selama perjalanan.

Hal ini menunjukkan bahwa kebersamaan tidak hanya terjadi di tempat tujuan, tetapi juga dalam setiap proses yang dilalui bersama.

Sambutan Hangat Keluarga

Setibanya di Tiyuh Gunung Katun, Pariyo Saputra dan keluarga disambut dengan penuh kehangatan oleh keluarga besar yang telah menantikan kedatangan mereka.

Suasana penuh keakraban langsung terasa saat pertemuan berlangsung. Senyum, pelukan, serta ucapan selamat Idul Fitri menjadi bagian dari tradisi yang tidak terpisahkan.

Dalam kunjungan tersebut, Pariyo Saputra bertemu dengan berbagai anggota keluarga, mulai dari saudara, kakak, ayu (adik perempuan), keponakan, hingga kerabat lainnya.

Momen ini menjadi sangat berharga, karena tidak semua anggota keluarga dapat bertemu setiap waktu. Oleh karena itu, Lebaran menjadi kesempatan yang sangat dinanti untuk berkumpul bersama.

Suasana Kekeluargaan yang Penuh Kehangatan

Selama kunjungan berlangsung, suasana kekeluargaan begitu terasa. Canda tawa dan obrolan santai mengisi waktu kebersamaan tersebut.

Setiap anggota keluarga saling berbagi cerita tentang kehidupan mereka, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga pengalaman selama setahun terakhir.

Anak-anak pun tampak menikmati suasana tersebut. Mereka bermain bersama sepupu-sepupu mereka, menciptakan kenangan indah yang akan terus dikenang.

Kehangatan ini menjadi bukti bahwa hubungan kekeluargaan yang baik dapat menciptakan kebahagiaan yang sederhana namun bermakna.

Ziarah ke Makam Leluhur

Setelah kegiatan silaturahmi, Pariyo Saputra dan keluarga melanjutkan kegiatan dengan melakukan ziarah ke makam keluarga, khususnya makam almarhum/almarhumah papa dan embah Kunjung.

Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mendahului. Dalam suasana yang khidmat, keluarga memanjatkan doa agar arwah mereka mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat akan pentingnya menghargai jasa-jasa orang tua dan leluhur yang telah memberikan banyak kontribusi dalam kehidupan keluarga.

Makna Ziarah dalam Kehidupan

Ziarah kubur memiliki makna yang sangat mendalam, terutama dalam tradisi masyarakat Indonesia. Selain sebagai bentuk penghormatan, ziarah juga menjadi sarana refleksi diri.

Melalui ziarah, seseorang diingatkan bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara, sehingga penting untuk selalu berbuat baik dan menjaga hubungan dengan sesama.

Dalam keluarga Pariyo Saputra, tradisi ini selalu dijaga dan dilaksanakan sebagai bagian dari nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Makan Bersama sebagai Penutup Kebersamaan

Setelah rangkaian kegiatan silaturahmi dan ziarah selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Momen ini menjadi salah satu bagian paling dinantikan oleh seluruh anggota keluarga.

Berbagai hidangan khas Lebaran disajikan, seperti ketupat, opor ayam, rendang, serta aneka kue tradisional. Semua anggota keluarga berkumpul dalam satu tempat untuk menikmati hidangan tersebut.

Makan bersama ini tidak hanya sekadar kegiatan makan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, kekompakan, dan keharmonisan keluarga.

Dalam suasana tersebut, semua anggota keluarga larut dalam kebahagiaan tanpa adanya perbedaan.

Memperkuat Nilai Kebersamaan

Kegiatan yang dilakukan oleh Pariyo Saputra dan keluarga ini menjadi contoh nyata pentingnya menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan.

Di tengah kesibukan dan perkembangan zaman yang semakin modern, hubungan kekeluargaan seringkali menjadi hal yang terabaikan.

Namun melalui kegiatan seperti ini, nilai-nilai tersebut dapat terus dijaga dan dilestarikan.

Nilai Sosial dan Religius

Kegiatan silaturahmi dan ziarah ini juga mengandung nilai sosial dan religius yang tinggi. Dari sisi sosial, kegiatan ini mempererat hubungan antar anggota keluarga.

Sementara dari sisi religius, ziarah dan doa bersama menjadi bentuk ibadah yang menunjukkan kepedulian terhadap keluarga yang telah tiada.

Nilai-nilai ini sangat penting untuk dijaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Indonesia.

Harapan untuk Masa Depan

Pariyo Saputra berharap agar tradisi silaturahmi ini dapat terus dilestarikan oleh generasi berikutnya.

Ia ingin agar nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan tetap terjaga meskipun zaman terus berubah.

“Saya berharap generasi muda tetap menjaga tradisi ini, karena keluarga adalah tempat kita kembali dan berbagi kebahagiaan,” ujarnya.

Penutup

Kegiatan silaturahmi yang dilakukan oleh Pariyo Saputra dan keluarga di Tiyuh Gunung Katun Tanjungan ini menjadi gambaran nyata bagaimana nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, dan religius tetap dijaga di tengah masyarakat.

Melalui kunjungan, ziarah, dan makan bersama, tercipta suasana penuh kehangatan yang tidak ternilai harganya.

Momen ini menjadi pengingat bahwa keluarga adalah bagian terpenting dalam kehidupan, tempat kita berbagi, kembali, dan menemukan kebahagiaan sejati.

Reporter: Arif Rahman 

(Redaksi Gnotif)