Berita

Breaking News

Hadiri Haul Akbar ke-11, Danramil Dengar Pesan Kebangsaan Irjen Pol. Ahmad Nurwahit: Waspadai Radikalisme dan Jaga Persatuan Bangsa

Lampung Utara, (GNOTIF.COM) – Suasana penuh khidmat dan nuansa religius menyelimuti pelaksanaan Majelis Keagamaan Haul Akbar Muassis ke-11 sekaligus Haflah Akhirusanah yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Minhajul Huda, Desa Cempaka Timur, Kecamatan Sungkai Jaya, Kabupaten Lampung Utara, Sabtu malam (13/6/2026).

Kegiatan yang dihadiri sekitar 500 jemaah tersebut tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pendiri pondok pesantren dan ulama terdahulu, tetapi juga menjadi wadah mempererat ukhuwah Islamiyah, memperkuat nilai-nilai kebangsaan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di tengah berbagai tantangan yang berkembang saat ini.

Pada kegiatan tersebut, Komandan Kodim 0412/Lampung Utara diwakili oleh Danramil 412-02/Sungkai Selatan, Lettu Arm Muhamad Asnari Pulungan. Kehadiran perwakilan TNI dalam acara keagamaan tersebut menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung kegiatan masyarakat yang bertujuan memperkuat nilai keagamaan, kebangsaan, serta menjaga harmonisasi sosial di tengah kehidupan bermasyarakat.

Majelis keagamaan yang berlangsung sejak pukul 20.00 WIB hingga selesai itu menghadirkan penceramah nasional yang juga dikenal luas di berbagai kalangan, yakni Irjen Pol. Ahmad Nurwahit, S.E., M.M. Dalam ceramahnya, ia menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang dipadukan dengan wawasan kebangsaan, terutama terkait pentingnya menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mewaspadai berkembangnya paham radikalisme yang dapat mengancam persatuan bangsa.

Haul Akbar Sebagai Tradisi Menghormati Ulama dan Pendiri Pesantren

Haul merupakan tradisi yang telah lama hidup dan berkembang di tengah masyarakat Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan kepada para ulama, guru, dan pendiri lembaga pendidikan Islam yang telah berjasa dalam menyebarkan ilmu agama serta membina umat.

Melalui Haul Akbar Muassis ke-11 ini, keluarga besar Pondok Pesantren Minhajul Huda mengenang kembali perjuangan para pendiri pesantren yang telah meletakkan dasar pendidikan Islam bagi masyarakat sekitar. Tidak hanya sebagai tempat menimba ilmu agama, pesantren juga selama ini menjadi pusat pembinaan karakter, moral, serta nilai-nilai kebangsaan bagi generasi muda.

Selain haul, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan Haflah Akhirusanah yang menjadi momentum penting bagi para santri yang telah menyelesaikan masa pendidikannya. Acara ini menjadi bentuk penghargaan atas proses pembelajaran yang telah dilalui sekaligus motivasi bagi para santri untuk terus mengembangkan ilmu yang diperoleh dan mengamalkannya di tengah masyarakat.

Ratusan jemaah yang hadir tampak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan penuh khusyuk. Pembacaan doa, dzikir, tahlil, serta berbagai rangkaian acara keagamaan berlangsung dalam suasana yang tertib dan penuh kekhidmatan.

Kehadiran Danramil Wujud Sinergi TNI dengan Ulama dan Masyarakat

Kehadiran Danramil 412-02/Sungkai Selatan, Lettu Arm Muhamad Asnari Pulungan, dalam kegiatan tersebut menjadi simbol eratnya hubungan antara TNI dengan para ulama dan masyarakat.

Selama ini, TNI tidak hanya menjalankan tugas menjaga kedaulatan negara, tetapi juga aktif membangun komunikasi sosial dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan lembaga pendidikan keagamaan. Melalui kegiatan seperti haul dan pengajian akbar, hubungan yang harmonis antara aparat negara dan masyarakat dapat terus terjalin dengan baik.

Dalam berbagai kesempatan, jajaran Kodim 0412/Lampung Utara terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung kegiatan keagamaan yang membawa manfaat positif bagi masyarakat. Kehadiran aparat TNI di tengah masyarakat juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan wilayah melalui pendekatan humanis dan kebersamaan.

Pesantren dan ulama memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas sosial serta membangun karakter bangsa. Oleh karena itu, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat menjadi modal penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, dan persatuan bangsa.

Pesan Kebangsaan: Waspadai Radikalisme dan Perpecahan

Puncak acara diisi dengan tausiah kebangsaan yang disampaikan oleh Irjen Pol. Ahmad Nurwahit. Dalam ceramahnya, beliau mengajak seluruh hadirin untuk terus menjaga persatuan dan tidak mudah terpengaruh oleh paham-paham yang dapat memecah belah bangsa.

Menurutnya, Indonesia merupakan negara besar yang dibangun atas dasar keberagaman. Perbedaan suku, budaya, bahasa, dan latar belakang bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan yang harus dijaga bersama.

Irjen Pol. Ahmad Nurwahit menegaskan bahwa salah satu ancaman yang perlu diwaspadai saat ini adalah berkembangnya paham radikalisme yang sering kali memanfaatkan isu agama untuk memecah persatuan masyarakat.

Beliau mengingatkan bahwa masyarakat harus memiliki pemahaman agama yang benar dan tidak mudah terprovokasi oleh ajaran yang menyimpang dari nilai-nilai Islam yang damai, moderat, dan penuh kasih sayang.

“Persatuan adalah modal utama bangsa ini. Jangan sampai kita terpecah hanya karena perbedaan pandangan atau kepentingan kelompok tertentu. Kita harus menjaga Indonesia yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa dengan penuh pengorbanan,” ujarnya di hadapan ratusan jemaah.

Empat Ciri Kelompok yang Perlu Diwaspadai

Dalam ceramahnya, Irjen Pol. Ahmad Nurwahit secara khusus memaparkan empat ciri kelompok atau oknum yang perlu mendapat perhatian dan kewaspadaan dari masyarakat.

Pertama, kelompok yang gemar menyalahkan atau menganggap salah praktik keagamaan orang lain sambil merasa dirinya paling benar. Menurutnya, sikap seperti ini dapat memicu konflik dan perpecahan di tengah masyarakat.

Islam mengajarkan pentingnya menghormati perbedaan pendapat selama masih berada dalam koridor syariat dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama. Karena itu, sikap mudah menghakimi orang lain harus dihindari.

Kedua, kelompok yang membentuk pengelompokan atau kasta demi kepentingan golongan tertentu. Praktik semacam ini berpotensi menciptakan sekat-sekat sosial yang mengganggu persatuan umat.

Beliau menegaskan bahwa seluruh umat Islam adalah saudara yang memiliki kedudukan yang sama di hadapan Allah SWT. Tidak boleh ada kelompok yang merasa lebih tinggi atau lebih mulia dibanding kelompok lainnya hanya karena perbedaan latar belakang tertentu.

Ketiga, oknum yang merusak ajaran agama dari dalam melalui paham radikal yang menyimpang. Kelompok semacam ini sering kali menggunakan dalil agama secara tidak tepat untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Radikalisme, menurutnya, merupakan ancaman serius karena dapat mengubah cara pandang seseorang menjadi intoleran dan cenderung melakukan tindakan yang merugikan masyarakat.

Keempat, kelompok yang tidak mau taat kepada pemimpin pemerintahan yang sah. Sikap tersebut dikategorikan sebagai bentuk ketidaksetiaan terhadap bangsa dan negara.

Dalam kehidupan bernegara, masyarakat harus menghormati sistem pemerintahan yang sah dan menyelesaikan setiap perbedaan melalui cara-cara yang konstitusional, damai, dan sesuai hukum yang berlaku.

Menguatkan Nasionalisme Melalui Nilai-Nilai Keagamaan

Irjen Pol. Ahmad Nurwahit menekankan bahwa agama dan nasionalisme bukanlah dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, keduanya dapat berjalan beriringan dan saling menguatkan.

Menurutnya, kecintaan terhadap tanah air merupakan bagian dari tanggung jawab moral setiap warga negara. Menjaga persatuan bangsa, menghormati sesama, serta berkontribusi positif bagi masyarakat merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Beliau mengajak para santri, tokoh agama, dan masyarakat untuk menjadi agen perdamaian yang mampu menyebarkan pesan-pesan kesejukan di tengah kehidupan sosial.

“Indonesia adalah anugerah yang luar biasa. Kita harus bersyukur hidup di negara yang damai dan penuh keberagaman. Tugas kita adalah menjaga warisan ini agar tetap utuh untuk generasi mendatang,” katanya.

Peran Pesantren dalam Menjaga Keutuhan NKRI

Pondok pesantren memiliki sejarah panjang dalam perjalanan bangsa Indonesia. Sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga era pembangunan modern, pesantren selalu hadir sebagai lembaga yang berperan dalam mencetak generasi berakhlak, berilmu, dan cinta tanah air.

Pondok Pesantren Minhajul Huda menjadi salah satu contoh lembaga pendidikan Islam yang terus berkomitmen menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada para santrinya.

Melalui pendidikan yang berimbang antara ilmu agama dan wawasan kebangsaan, para santri diharapkan mampu menjadi generasi yang religius sekaligus memiliki komitmen kuat terhadap persatuan bangsa.

Pesantren juga menjadi benteng penting dalam mencegah masuknya paham-paham ekstrem yang dapat mengganggu kerukunan masyarakat. Dengan pendekatan pendidikan yang mengedepankan akhlak dan toleransi, pesantren berkontribusi besar dalam menjaga stabilitas sosial.

Dihadiri Unsur Forkopimda dan Tokoh Masyarakat

Majelis Keagamaan Haul Akbar Muassis ke-11 dan Haflah Akhirusanah ini turut dihadiri berbagai unsur Forkopimda dan tokoh masyarakat. Hadir dalam kegiatan tersebut Staf Ahli yang mewakili Bupati Lampung Utara, perwakilan Kapolres Lampung Utara, unsur dari Komando Kimal, jajaran perangkat kecamatan dan desa, para tokoh agama, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan kuatnya sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat dalam menjaga kehidupan sosial yang harmonis dan kondusif.

Para tokoh yang hadir juga memberikan apresiasi kepada Pondok Pesantren Minhajul Huda atas kontribusinya dalam membina generasi muda serta menjaga nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan di Kabupaten Lampung Utara.

Acara Berlangsung Aman, Tertib dan Penuh Kekeluargaan

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar, tertib, aman, dan kondusif hingga selesai. Panitia bersama aparat keamanan melakukan koordinasi yang baik sehingga ratusan jemaah dapat mengikuti acara dengan nyaman.

Nuansa kekeluargaan sangat terasa sepanjang kegiatan berlangsung. Para jemaah, santri, tokoh agama, dan unsur pemerintah berbaur dalam suasana penuh kebersamaan dan persaudaraan.

Keberhasilan pelaksanaan Haul Akbar Muassis ke-11 dan Haflah Akhirusanah ini menjadi bukti bahwa kegiatan keagamaan mampu menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam menjaga persatuan bangsa.

Melalui pesan-pesan kebangsaan yang disampaikan Irjen Pol. Ahmad Nurwahit, masyarakat diingatkan kembali akan pentingnya menjaga kerukunan, memperkuat toleransi, serta mewaspadai segala bentuk paham yang dapat memecah belah bangsa. Dengan semangat persaudaraan dan nilai-nilai agama yang rahmatan lil alamin, Indonesia diharapkan terus menjadi negara yang rukun, damai, makmur, dan tetap kokoh dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

#Pendim0412LampungUtara#

Editor Redaksi Gnotif 

0 Komentar

© Copyright 2022 - Gnotif