Berita

Breaking News

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X Tegaskan Sragen Adalah Saudara Tua Yogyakarta

SRAGEN, (GNotif.com) – Hubungan sejarah antara Kabupaten Sragen dan Daerah Istimewa Yogyakarta kembali ditegaskan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam acara Malam Puncak Muhibah Budaya yang berlangsung baru-baru ini. Dalam pidatonya, Sri Sultan menyebut Kabupaten Sragen sebagai “saudara tua” Yogyakarta karena memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pernyataan tersebut bukan sekadar ungkapan simbolis, melainkan didasarkan pada fakta sejarah yang menunjukkan bahwa wilayah Sukowati, yang kini menjadi Kabupaten Sragen, memiliki kontribusi besar dalam perjuangan Pangeran Mangkubumi melawan kekuasaan kolonial pada abad ke-18.

Di hadapan para tamu undangan dan masyarakat yang hadir dalam rangkaian Muhibah Budaya, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengulas kembali hubungan historis yang telah terjalin selama ratusan tahun antara Yogyakarta dan Sragen. Menurutnya, sejarah panjang tersebut menjadi fondasi kuat yang menghubungkan kedua daerah hingga saat ini.

“Sragen bukan hanya bagian dari catatan sejarah perjalanan Mataram, melainkan menjadi salah satu tempat yang memiliki peran strategis dalam lahirnya Kesultanan Yogyakarta. Oleh karena itu, Sragen layak disebut sebagai saudara tua Yogyakarta,” demikian inti pernyataan Sri Sultan dalam pidatonya.

Salah satu peristiwa penting yang menjadi dasar pernyataan tersebut terjadi pada 27 Mei 1746. Pada tanggal tersebut, Pangeran Mangkubumi mendirikan pemerintahan perlawanan di Pendopo Pandak yang berada di wilayah Krikilan, Kecamatan Masaran, Kabupaten Sragen. Tempat tersebut kemudian dikenal sebagai titik awal perjuangan yang menjadi cikal bakal berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Peristiwa bersejarah itu menjadi momentum penting dalam perjalanan bangsa, khususnya dalam sejarah Kerajaan Mataram Islam. Berdirinya pemerintahan perlawanan di tanah Sukowati menunjukkan bahwa Sragen memiliki posisi yang sangat strategis dalam perjuangan politik dan militer pada masa itu.

Sejarah mencatat bahwa Pangeran Mangkubumi, yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I, memulai perjuangannya melawan dominasi kolonial dan konflik internal kerajaan dari wilayah Sukowati. Langkah tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan besar yang berujung pada lahirnya Kesultanan Yogyakarta melalui Perjanjian Giyanti pada tahun 1755.

Atas dasar sejarah tersebut, Hari Jadi Kabupaten Sragen yang diperingati setiap tanggal 27 Mei memiliki makna yang sangat mendalam. Tanggal tersebut bukan hanya menjadi penanda berdirinya pemerintahan lokal di Sragen, tetapi juga menjadi simbol perjuangan dan semangat kedaulatan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam rangkaian Muhibah Budaya, berbagai kegiatan seni dan budaya turut digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah yang menghubungkan Sragen dan Yogyakarta. Acara tersebut juga menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, agar lebih memahami akar sejarah daerahnya.

Para budayawan dan tokoh masyarakat yang hadir menyambut baik pernyataan Sri Sultan Hamengku Buwono X. Mereka menilai bahwa pengakuan tersebut semakin memperkuat identitas Kabupaten Sragen sebagai salah satu wilayah yang memiliki peran penting dalam sejarah Nusantara.

Selain itu, hubungan historis antara Sragen dan Yogyakarta diharapkan dapat menjadi modal penting dalam mempererat kerja sama di berbagai bidang, mulai dari pelestarian budaya, pendidikan, hingga pengembangan pariwisata berbasis sejarah.

Muhibah Budaya sendiri menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat kebersamaan dan memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan budaya. Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai perjuangan para pendahulu diharapkan tetap lestari dan mampu menginspirasi generasi penerus bangsa.

Sragen yang selama ini dikenal sebagai Bumi Sukowati ternyata menyimpan jejak sejarah yang sangat besar dalam perjalanan bangsa Indonesia. Pengakuan Sri Sultan Hamengku Buwono X bahwa Sragen adalah saudara tua Yogyakarta menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam buku-buku, tetapi juga hidup dalam identitas dan kebanggaan masyarakatnya.

Dengan memahami sejarah tersebut, masyarakat diharapkan semakin menghargai jasa para pendahulu yang telah berjuang membangun fondasi peradaban dan kedaulatan. Semangat perjuangan yang lahir dari tanah Sukowati diharapkan terus menjadi inspirasi dalam menghadapi tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik.

Melalui momentum Muhibah Budaya, hubungan antara Sragen dan Yogyakarta tidak hanya dipandang sebagai ikatan geografis, melainkan juga sebagai persaudaraan sejarah yang telah terjalin selama berabad-abad dan akan terus diwariskan kepada generasi mendatang.

(*)

Pewarta: Pariyo Saputra 

Redaksi GNotif 

0 Komentar

© Copyright 2022 - Gnotif