JAKARTA, GNOTIF.COM – Sosok satpam bernama Fiktor Harefa menjadi perhatian publik setelah aksinya menegur kendaraan Alphard hitam yang diduga menerobos aturan lalu lintas di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat. Sikap Fiktor yang berusaha menjalankan tugas menjaga ketertiban di area proyek pembangunan MRT tersebut menuai banyak dukungan dari masyarakat.
Peristiwa yang melibatkan Fiktor dengan pengemudi serta penumpang kendaraan Alphard tersebut viral di media sosial. Banyak warganet memberikan apresiasi karena Fiktor dinilai berani menjalankan tanggung jawabnya sebagai petugas keamanan dengan mengingatkan pengguna jalan yang melakukan pelanggaran.
Dalam kejadian tersebut, Fiktor diketahui sempat mengalami situasi yang membuat dirinya tertekan. Ia mengaku mendapat intimidasi hingga harus bersujud di hadapan pengemudi dan penumpang Alphard saat proses mediasi awal yang berlangsung di Pos Polisi Bundaran HI. Kondisi tersebut kemudian mendapat perhatian luas dari masyarakat maupun sejumlah pejabat pemerintah.
Menanggapi kejadian tersebut, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama Wakil Gubernur Rano Karno turut memberikan perhatian terhadap nasib Fiktor. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menilai bahwa tindakan yang dilakukan Fiktor merupakan bagian dari tugasnya sebagai petugas keamanan di lapangan.
Pramono Anung bahkan meminta agar pihak perusahaan tidak memberikan sanksi berupa pemecatan terhadap Fiktor. Menurutnya, satpam tersebut justru telah menjalankan tugas dengan baik ketika berupaya mengingatkan pengguna jalan agar mematuhi aturan yang berlaku.
"Untuk nasib satpam, saya meminta untuk tidak dipecat atau diberhentikan. Bahkan yang bersangkutan sebenarnya malah menjalankan tugas dengan baik sekali," ujar Pramono Anung saat ditemui di Balai Kota Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Pramono mengungkapkan bahwa dirinya telah beberapa kali melihat rekaman kamera pengawas atau CCTV terkait kejadian tersebut. Dari hasil pengamatannya, Fiktor dinilai tidak melakukan tindakan yang melanggar prosedur, melainkan berusaha menjalankan kewajiban sebagai petugas keamanan.
Menurut Pramono, seorang petugas keamanan memiliki tanggung jawab untuk menjaga ketertiban dan memberikan teguran apabila menemukan adanya tindakan yang dianggap tidak sesuai aturan. Oleh karena itu, ia berharap Fiktor tetap dapat bekerja seperti biasa tanpa harus kehilangan mata pencahariannya.
"Jadi untuk satpamnya, sekali lagi saya minta untuk tidak dipecat dan tetap dipekerjakan seperti biasa karena satpam inilah yang menjalankan tugasnya," tegas Pramono.
Sementara itu, perhatian terhadap Fiktor juga datang dari Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Melalui unggahan di media sosialnya pada Sabtu (25/7/2026), Dedi Mulyadi menyampaikan niat untuk menawarkan pekerjaan kepada Fiktor sebagai petugas keamanan di lingkungan Gedung Sate, kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Dedi Mulyadi menyebut bahwa dirinya telah bertemu langsung dengan Fiktor yang sebelumnya menyampaikan keinginan untuk pindah bekerja ke Bandung. Tawaran tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas keberanian Fiktor dalam menjalankan tugasnya.
"Bertemu Bang Fiktor, satpam yang kemarin ramai di Bundaran HI. Beliau berniat pindah kerja di Bandung saja," tulis Dedi Mulyadi dalam unggahannya.
Diketahui, Fiktor merupakan warga Bandung yang berasal dari Nias, Sumatera Utara. Saat ini ia masih bekerja sebagai satpam pada proyek pembangunan MRT di kawasan Bundaran HI, Jakarta. Namun, terdapat rencana agar dirinya dapat melanjutkan pekerjaan sebagai petugas keamanan di Bandung.
"Tinggal di Pasteur. Dan sengaja ketemu saya hari ini untuk pindah kerja sebagai security. Jadi insya allah nanti rencananya pindah kerja sebagai security di Jakarta menjadi security di Bandung," ujar Dedi Mulyadi.
Dedi menjelaskan, nantinya Fiktor berpeluang ditempatkan sebagai satpam di sekitar kawasan Gedung Sate yang saat ini tengah dilakukan proyek penataan halaman. Ia berharap kesempatan tersebut dapat menjadi motivasi bagi masyarakat untuk tetap menjalankan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab.
Selain memberikan perhatian kepada Fiktor, Dedi Mulyadi juga menyampaikan bahwa setiap pihak harus saling menghargai tugas masing-masing. Menurutnya, petugas keamanan, aparat kepolisian, maupun masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan ketertiban umum.
"Kita juga semua sama-sama saling menghargai tugas kita masing-masing," kata Dedi Mulyadi.
Kasus viral yang melibatkan Fiktor Harefa menjadi perhatian publik karena menyangkut keberanian seorang petugas keamanan dalam menjalankan tugasnya. Dukungan dari berbagai pihak diharapkan dapat menjadi penguatan moral bagi para pekerja keamanan yang setiap hari menjalankan tanggung jawab menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungan kerja maupun masyarakat.
Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menghormati setiap profesi serta mengedepankan komunikasi yang baik ketika terjadi perbedaan pandangan di lapangan. Dengan sikap saling menghargai, berbagai persoalan di masyarakat diharapkan dapat diselesaikan secara bijaksana dan berkeadilan. (*)
Pewarta: Pariyo Saputra
Redaksi GNotif

0 Komentar