Pendiri Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende: Jangan Bawa-Bawa Nama Suku di Ruang Publik

LAMPUNG UTARA, (GNotif.Com) – Pendiri Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende, Deferi Zan, mengimbau seluruh masyarakat agar tidak membawa-bawa identitas suku dalam menyampaikan pendapat maupun komentar di ruang publik, terutama melalui media sosial.

Imbauan tersebut disampaikan Deferi Zan menyikapi maraknya komentar dari sejumlah akun anonim yang dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, memicu konflik, serta mengganggu kerukunan masyarakat. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi dan penyebaran informasi yang positif, bukan sebagai ruang untuk menyebarkan ujaran yang dapat memecah persatuan.

Deferi menyampaikan pandangannya tersebut pada Kamis, 13 Agustus 2026. Ia meminta masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan tidak mudah terpancing oleh komentar yang sengaja diarahkan untuk membenturkan satu kelompok dengan kelompok lainnya.

“Jangan asal ngomong dan jangan bawa-bawa nama suku. Kita semua warga Indonesia. Kita adalah manusia. Tidak ada suku yang bisa membedakan kita,” tegas Deferi Zan.

Menurut Deferi, perbedaan suku, budaya, bahasa, adat istiadat maupun latar belakang masyarakat merupakan bagian dari kekayaan bangsa Indonesia. Perbedaan tersebut semestinya menjadi kekuatan yang mempererat persaudaraan, bukan dijadikan alasan untuk saling menyerang.

Ia menilai persoalan apa pun yang muncul di tengah masyarakat sebaiknya diselesaikan melalui cara-cara yang rasional dan bertanggung jawab. Apabila terdapat informasi yang belum jelas, masyarakat diminta melakukan klarifikasi dan mencari data yang benar sebelum memberikan komentar atau menyebarkan informasi kepada orang lain.

Ruang Digital Harus Dijaga Bersama

Deferi Zan menyoroti penggunaan media sosial yang semakin luas dalam kehidupan masyarakat. Hampir setiap persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat dapat dengan cepat menyebar melalui berbagai platform digital.

Kondisi tersebut, menurutnya, memiliki sisi positif karena masyarakat dapat memperoleh informasi dengan cepat. Namun, apabila tidak digunakan secara bijak, media sosial juga dapat menjadi sarana penyebaran informasi yang keliru, fitnah, ujaran kebencian dan provokasi.

Karena itu, ia mengajak pengguna media sosial untuk tidak menjadikan kolom komentar sebagai tempat melampiaskan emosi maupun menyerang kelompok tertentu. Terlebih apabila serangan tersebut membawa-bawa nama suku.

“Ruang digital harus digunakan untuk hal-hal yang membangun, bukan untuk menyebarkan ujaran kebencian, fitnah, atau adu domba antar suku,” ujarnya.

Menurut Deferi, seseorang yang menyampaikan pendapat di media sosial harus memahami bahwa setiap komentar dapat dibaca oleh banyak orang. Kalimat yang dianggap sebagai candaan oleh seseorang bisa saja dipahami berbeda oleh orang lain dan berpotensi menimbulkan persoalan lebih besar.

Oleh sebab itu, kehati-hatian dalam berkomentar merupakan bentuk tanggung jawab sosial. Apalagi ketika komentar tersebut menyangkut identitas kelompok, suku atau komunitas tertentu.

Tolak Provokasi Mengatasnamakan Suku

Sebagai pendiri Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende, Deferi menegaskan bahwa pihaknya menolak segala bentuk provokasi yang mengatasnamakan suku tertentu untuk menyerang pihak lain.

Ia mengatakan, organisasi yang mewadahi warga Ogan Semende tersebut tidak dibentuk untuk membangun jarak dengan masyarakat dari latar belakang berbeda. Sebaliknya, organisasi tersebut diharapkan menjadi wadah silaturahmi, memperkuat persaudaraan serta membangun hubungan yang harmonis dengan seluruh elemen masyarakat.

“Kami dari Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende hidup berdampingan dengan semua suku di Lampung Utara dan di Indonesia. Kami cinta damai. Jangan ada lagi yang berlindung di balik akun anonim untuk menebar kebencian,” ujarnya.

Deferi menilai penggunaan akun anonim untuk menyampaikan tudingan maupun serangan kepada kelompok tertentu justru dapat memperkeruh keadaan. Terlebih apabila identitas suku sengaja digunakan untuk memperkuat serangan tersebut.

Menurutnya, perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi permusuhan berdasarkan identitas suku.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan berbeda sebagai saudara sebangsa. Jangan sampai persoalan pribadi atau persoalan tertentu kemudian dibawa menjadi persoalan suku,” katanya.

Persatuan Harus Lebih Diutamakan

Deferi mengingatkan bahwa Indonesia dibangun oleh masyarakat yang memiliki latar belakang sangat beragam. Dari Sabang sampai Merauke, masyarakat Indonesia hidup dengan berbagai macam suku, bahasa, adat dan budaya.

Keragaman tersebut merupakan realitas kehidupan bangsa. Karena itu, masyarakat harus belajar untuk hidup berdampingan dan menghormati perbedaan.

Menurutnya, masyarakat Lampung Utara juga merupakan contoh lingkungan yang dihuni berbagai kelompok masyarakat. Warga dengan latar belakang berbeda dapat hidup berdampingan, membangun usaha, bekerja, bermasyarakat dan saling membantu.

Dalam kondisi seperti itu, menurut Deferi, jangan sampai muncul pihak-pihak yang sengaja memperbesar perbedaan melalui media sosial.

“Kita kuat karena berbeda. Mari selesaikan persoalan dengan dialog, data, dan hukum. Bukan dengan menyerang nama suku di kolom komentar,” tutupnya.

Jangan Mudah Terpancing Akun Anonim

Deferi juga mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpancing oleh unggahan maupun komentar yang berasal dari akun yang tidak jelas identitasnya.

Menurutnya, akun anonim dapat digunakan oleh siapa saja dan belum tentu informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

Ia berharap masyarakat dapat membangun budaya digital yang sehat dengan mengutamakan informasi yang benar, bahasa yang santun serta menghindari konten yang berpotensi memicu konflik.

Apabila ada permasalahan yang menyangkut individu maupun kelompok, penyelesaian sebaiknya dilakukan dengan menghadirkan pihak-pihak yang berkaitan. Dengan demikian, persoalan dapat dilihat secara objektif dan tidak berkembang menjadi isu yang lebih luas.

“Jangan hanya membaca satu komentar lalu langsung mengambil kesimpulan. Jangan juga ikut menyebarkan karena emosi. Kita harus melihat persoalan secara utuh,” pesan Deferi.

Warga Pribumi dan Pendatang Diajak Menjaga Kerukunan

Selain meminta masyarakat tidak menggunakan isu suku sebagai bahan serangan, Deferi juga mengajak seluruh warga, baik masyarakat pribumi maupun pendatang, untuk bersama-sama menjaga kerukunan.

Menurutnya, kehidupan masyarakat tidak dapat dipisahkan dari keberadaan berbagai kelompok. Setiap warga memiliki kontribusi dalam membangun daerah sesuai bidang dan kemampuan masing-masing.

Perbedaan latar belakang seharusnya tidak menjadi penghalang dalam membangun hubungan sosial. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekuatan karena setiap kelompok memiliki pengalaman, budaya dan potensi yang dapat saling melengkapi.

Deferi berharap masyarakat Lampung Utara terus menjaga suasana yang aman dan kondusif. Ia juga mengingatkan agar persoalan yang muncul di media sosial tidak langsung dibawa ke lingkungan masyarakat dan menjadi konflik nyata.

“Kita semua mempunyai keluarga. Kita semua ingin hidup aman dan damai. Karena itu, jangan membuat persoalan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan komunikasi menjadi konflik besar hanya karena komentar di media sosial,” katanya.

Identitas Suku Bukan Alat untuk Memecah Masyarakat

Menurut Deferi, identitas suku seharusnya menjadi bagian dari kebanggaan terhadap budaya dan sejarah masing-masing. Identitas tersebut tidak semestinya digunakan untuk merendahkan atau menyerang kelompok lain.

Ia mengatakan, setiap suku memiliki nilai-nilai budaya yang patut dihormati. Begitu pula masyarakat Ogan Semende memiliki adat, budaya dan tradisi yang terus dijaga oleh masyarakatnya.

Namun, menjaga budaya tidak berarti membangun eksklusivitas. Justru menurutnya, keberadaan perkumpulan masyarakat daerah di perantauan harus menjadi jembatan untuk mempererat hubungan dengan masyarakat luas.

“Kita boleh bangga dengan suku kita, dengan budaya kita, dengan adat kita. Tetapi kebanggaan itu jangan digunakan untuk merendahkan orang lain. Kita tetap satu Indonesia,” tegas Deferi.

Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende

Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende merupakan wadah silaturahmi bagi warga Ogan Semende yang berada di perantauan. Keberadaan perkumpulan tersebut diarahkan untuk memperkuat hubungan kekeluargaan sekaligus menjaga budaya dan nilai-nilai positif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Dalam menjalankan kegiatannya, organisasi tersebut juga berkomitmen membangun sinergi dengan seluruh elemen masyarakat. Artinya, perkumpulan tidak hanya berorientasi pada kepentingan internal warga Ogan Semende, tetapi juga berupaya menjadi bagian dari masyarakat yang lebih luas.

Deferi mengatakan bahwa menjaga silaturahmi merupakan salah satu hal penting bagi masyarakat yang hidup di perantauan. Dengan adanya wadah bersama, warga dapat saling membantu, bertukar informasi dan mempererat hubungan kekeluargaan.

Namun, hubungan tersebut tetap harus dibangun dalam semangat kebangsaan. Setiap anggota masyarakat, apa pun suku dan latar belakangnya, memiliki kedudukan yang sama sebagai warga negara Indonesia.

Mengedepankan Dialog, Data dan Hukum

Salah satu pesan utama yang disampaikan Deferi adalah pentingnya menyelesaikan setiap persoalan melalui dialog, data dan hukum.

Dialog dibutuhkan agar masing-masing pihak dapat menyampaikan pandangannya. Data diperlukan agar persoalan tidak dibangun berdasarkan asumsi. Sementara hukum menjadi jalan ketika terdapat persoalan yang memang membutuhkan penyelesaian melalui mekanisme resmi.

Menurutnya, pendekatan tersebut jauh lebih baik daripada saling menyerang melalui media sosial.

Jika masyarakat terbiasa menggunakan data dan dialog, berbagai persoalan dapat diselesaikan secara lebih dewasa. Sebaliknya, apabila setiap persoalan langsung dibumbui isu suku, potensi konflik akan semakin besar.

Deferi berharap masyarakat Lampung Utara dapat menjadi contoh bahwa keberagaman bukan penghalang untuk hidup rukun.

Ajakan Bijak Bermedia Sosial

Di era digital, setiap orang dapat menjadi penyampai informasi. Hanya dengan menggunakan telepon genggam, seseorang dapat membuat tulisan, foto atau video yang kemudian menyebar kepada banyak orang.

Kemudahan tersebut menurut Deferi harus diimbangi dengan kesadaran dan tanggung jawab. Masyarakat harus memahami bahwa kebebasan menyampaikan pendapat tidak berarti bebas menyerang orang lain maupun kelompok tertentu.

Ia mengajak masyarakat agar sebelum menulis komentar, terlebih dahulu memikirkan dampak dari kalimat yang disampaikan.

“Mari kita biasakan berkomentar dengan bahasa yang baik. Kalau tidak setuju, sampaikan ketidaksetujuan dengan alasan. Kalau ada masalah, mari cari jalan keluarnya. Jangan langsung membawa-bawa suku,” ujarnya.

Menurutnya, komentar yang provokatif dapat bertahan lama di ruang digital dan berpotensi dibaca kembali oleh banyak orang. Karena itu, masyarakat perlu menghindari kalimat yang dapat memicu kebencian maupun permusuhan.

Semangat Persaudaraan Harus Dijaga

Deferi menilai persaudaraan merupakan modal penting dalam menjaga keamanan dan kenyamanan kehidupan masyarakat. Tidak ada pembangunan yang dapat berjalan baik apabila masyarakat terpecah oleh persoalan identitas.

Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk mengutamakan persatuan. Perbedaan suku tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh.

“Kita semua Indonesia. Jangan biarkan komentar dari akun anonim membuat kita saling curiga dan saling bermusuhan,” katanya.

Ia juga berharap tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh adat dan seluruh elemen masyarakat dapat memberikan contoh dalam menggunakan media sosial secara bijak.

Menurutnya, orang-orang yang memiliki pengaruh di tengah masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk mendorong suasana yang damai dan tidak memperbesar konflik.

Jaga Lampung Utara Tetap Kondusif

Imbauan Deferi Zan juga diarahkan agar kondisi sosial masyarakat Lampung Utara tetap aman, nyaman dan kondusif. Menurutnya, daerah yang aman merupakan modal penting untuk menjalankan berbagai aktivitas masyarakat.

Masyarakat dapat bekerja, menjalankan usaha, beribadah, menempuh pendidikan dan melakukan aktivitas lainnya dengan tenang apabila hubungan sosial terjaga.

Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu yang belum jelas. Terlebih jika isu tersebut membawa-bawa identitas suku.

Jika menemukan komentar yang dianggap provokatif, masyarakat dapat memilih untuk tidak ikut menyebarkannya. Apabila terdapat dugaan pelanggaran hukum, masyarakat dapat menggunakan saluran resmi yang tersedia.

Ogan Semende Tegaskan Komitmen Hidup Berdampingan

Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende kembali menegaskan komitmennya untuk hidup berdampingan dengan seluruh masyarakat. Deferi menyatakan bahwa pihaknya tidak ingin identitas Ogan Semende dijadikan alat untuk memicu konflik dengan kelompok lain.

Sebaliknya, keberadaan organisasi diharapkan dapat menjadi sarana mempererat silaturahmi, menjaga budaya sekaligus membangun sinergi dengan masyarakat luas.

Menurutnya, menjaga identitas budaya dan menjaga persatuan nasional bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan bersama selama setiap pihak menghormati identitas kelompok lain.

“Kami ingin warga Ogan Semende tetap mencintai budaya dan adatnya, tetapi juga tetap menghormati semua suku dan kelompok masyarakat. Kita hidup bersama di Indonesia,” jelasnya.

Penutup

Pendiri Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende, Deferi Zan, mengajak seluruh masyarakat untuk menghentikan penggunaan nama suku sebagai bahan provokasi di ruang publik, terutama melalui akun media sosial anonim.

Menurutnya, perbedaan suku merupakan bagian dari kekayaan bangsa Indonesia yang harus dirawat. Tidak sepatutnya persoalan pribadi, perbedaan pendapat maupun informasi yang belum terverifikasi berkembang menjadi konflik antar kelompok.

Ia kembali mengingatkan bahwa masyarakat harus mengutamakan dialog, data dan hukum dalam menyelesaikan persoalan. Media sosial hendaknya digunakan untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat, mempererat silaturahmi dan membangun komunikasi positif.

Deferi juga mengajak masyarakat pribumi maupun pendatang untuk menjaga kerukunan serta tidak mudah terpancing oleh komentar provokatif.

“Kita kuat karena berbeda. Mari selesaikan persoalan dengan dialog, data, dan hukum. Bukan dengan menyerang nama suku di kolom komentar,” tutupnya.

Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende menegaskan komitmennya sebagai wadah silaturahmi warga Ogan Semende di perantauan, sekaligus terus menjaga budaya, persatuan dan sinergi dengan seluruh elemen masyarakat.

Hormat kami,

Deferi Zan
Pendiri Perkumpulan Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende

(**)

Posting Komentar untuk "Pendiri Ikatan Keluarga Besar Ogan Semende: Jangan Bawa-Bawa Nama Suku di Ruang Publik"