SRAGEN, (GNOTIF.COM) - Belasan pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Terminal Pilangsari, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, mendatangi Gedung DPRD Sragen, Senin (21/9/2026). Kedatangan mereka untuk menyampaikan keluhan terkait kondisi Terminal Pilangsari yang dinilai semakin memprihatinkan dan berdampak langsung terhadap aktivitas perdagangan di kawasan tersebut.
Para pedagang berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi terminal yang selama beberapa tahun terakhir disebut mengalami berbagai kerusakan. Mereka menilai pembenahan fasilitas menjadi kebutuhan mendesak agar terminal kembali berfungsi secara optimal dan mampu mendukung kegiatan transportasi maupun perekonomian masyarakat di sekitarnya.
Salah satu persoalan yang paling dikeluhkan adalah kondisi landasan terminal. Permukaan jalan di dalam kawasan terminal disebut mengalami kerusakan parah dan dipenuhi lubang. Kondisi tersebut bahkan diibaratkan para pedagang seperti lintasan pacuan kuda karena banyaknya bagian jalan yang tidak rata dan berlubang.
Kerusakan landasan tersebut tidak hanya mengganggu kenyamanan pengguna terminal, tetapi juga membuat kendaraan yang melintas harus lebih berhati-hati. Bus yang masuk ke kawasan terminal disebut mengalami kendala ketika melintasi bagian jalan yang rusak.
Menurut keterangan pedagang, kerusakan jalan juga pernah menyebabkan kejadian yang cukup serius. Salah satu bus disebut mengalami as patah setelah menghantam lubang di area terminal. Kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa kerusakan fasilitas tidak lagi sekadar mengganggu aktivitas, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan keselamatan.
Keluhan pedagang tidak berhenti pada kondisi landasan. Sejumlah kios di kawasan Terminal Pilangsari juga mengalami kerusakan. Kondisi bangunan yang tidak terawat membuat sebagian pedagang merasa khawatir terhadap keamanan ketika menjalankan aktivitas sehari-hari.
Bahkan, menurut informasi yang disampaikan para pedagang, pernah terjadi kejadian seorang pedagang meninggal dunia setelah tertimpa tembok kios. Peristiwa tersebut menjadi salah satu alasan bagi para pedagang untuk meminta perhatian lebih serius terhadap kondisi bangunan dan fasilitas yang berada di kawasan terminal.
Kerusakan berbagai fasilitas juga dinilai berdampak terhadap aktivitas ekonomi. Dari total 68 kios yang tersedia di Terminal Pilangsari, kini hanya sekitar 40 kios yang masih aktif buka. Sejumlah pedagang lainnya memilih berhenti berjualan karena kondisi terminal dinilai tidak lagi mendukung kegiatan perdagangan seperti sebelumnya.
Menurunnya aktivitas terminal juga berpengaruh terhadap jumlah masyarakat yang datang. Pedagang mengaku kondisi tersebut membuat transaksi semakin sepi. Mereka berharap perbaikan fasilitas dapat kembali meningkatkan aktivitas kendaraan dan masyarakat sehingga kawasan terminal kembali ramai.
Persoalan lain yang turut dikeluhkan adalah kondisi terminal saat musim kemarau. Debu menjadi masalah yang dirasakan pedagang maupun pengunjung akibat kondisi permukaan jalan yang rusak. Debu yang beterbangan membuat lingkungan kios menjadi kurang nyaman dan dapat mengganggu aktivitas pedagang.
Sementara ketika musim hujan tiba, persoalan yang dihadapi berbeda. Area terminal disebut kerap tergenang karena sistem drainase mengalami kerusakan. Air yang tidak mengalir dengan baik menyebabkan genangan muncul di sejumlah bagian kawasan terminal dan semakin memperburuk kondisi lingkungan.
Selain jalan dan drainase, persoalan penerangan juga menjadi perhatian para pedagang. Sejumlah lampu penerangan jalan umum atau PJU dilaporkan tidak berfungsi. Kondisi tersebut membuat kawasan terminal menjadi gelap, khususnya ketika malam hari.
Minimnya penerangan turut memengaruhi aktivitas pedagang. Sebagian kios akhirnya memilih tutup karena kondisi lingkungan yang gelap dinilai kurang mendukung kegiatan perdagangan. Para pedagang berharap penerangan segera diperbaiki agar kawasan terminal kembali memiliki kondisi yang lebih aman dan nyaman.
Ketua Paguyuban Terminal Pilangsari, Suparno, mengatakan pihaknya telah berulang kali melihat kondisi fasilitas terminal yang semakin memerlukan perhatian. Menurutnya, Terminal Pilangsari telah menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejak 2017, tetapi hingga kini belum terlihat perkembangan signifikan dalam pembenahan fasilitas.
“Kondisinya tidak layak. Bus-bus juga sudah tidak masuk terminal,” ujar Suparno.
Menurut para pedagang, berkurangnya bus yang masuk ke terminal menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas perdagangan ikut menurun. Pedagang yang selama ini menggantungkan penghasilan dari keberadaan penumpang dan aktivitas kendaraan kini harus menghadapi kondisi perdagangan yang semakin sepi.
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan Terminal Pilangsari dari sisi fasilitas transportasi, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Keberadaan kios dan aktivitas perdagangan di terminal selama ini menjadi sumber penghasilan bagi sejumlah warga.
Sementara itu, Kepala Terminal Pilangsari, Ritadi, membenarkan bahwa sejumlah fasilitas di terminal mengalami kerusakan. Menurutnya, kondisi tersebut memang perlu mendapatkan penanganan agar fasilitas dapat kembali digunakan sebagaimana mestinya.
Ritadi menjelaskan, perbaikan fasilitas Terminal Pilangsari sebelumnya pernah dilakukan pada 2019 dan 2021. Namun, setelah beberapa tahun digunakan, sejumlah fasilitas kembali mengalami kerusakan dan membutuhkan pembenahan.
Beberapa fasilitas yang kini membutuhkan perhatian antara lain landasan terminal, drainase, atap kios, serta sejumlah fasilitas pendukung lainnya. Kerusakan tersebut menjadi bagian dari persoalan yang perlu ditangani agar fungsi terminal dapat berjalan secara lebih optimal.
Pihak terminal mengaku telah mengusulkan perbaikan fasilitas. Namun, pelaksanaan perbaikan harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran dan skala prioritas. Hal tersebut karena terdapat banyak terminal tipe B lainnya yang juga mengalami kondisi serupa dan membutuhkan penanganan.
Kondisi tersebut membuat para pedagang berharap adanya perhatian dan koordinasi yang lebih serius dari pemerintah provinsi. Mereka ingin agar usulan perbaikan yang telah disampaikan dapat segera mendapatkan tindak lanjut sehingga kerusakan fasilitas tidak semakin parah.
Kedatangan belasan pedagang ke Gedung DPRD Sragen menjadi bentuk penyampaian aspirasi terkait kondisi Terminal Pilangsari. Mereka berharap persoalan tersebut dapat diteruskan kepada pihak yang memiliki kewenangan sehingga perbaikan dapat segera dilakukan.
Para pedagang juga berharap pembenahan tidak hanya dilakukan pada satu bagian fasilitas. Menurut mereka, perbaikan perlu dilakukan secara menyeluruh mulai dari landasan, drainase, bangunan kios, penerangan, hingga fasilitas pendukung lainnya.
Dengan fasilitas yang lebih baik, para pedagang berharap aktivitas terminal dapat kembali meningkat. Mereka ingin kendaraan umum kembali menggunakan terminal sebagaimana fungsinya, sehingga keberadaan penumpang dan aktivitas masyarakat dapat menghidupkan kembali perdagangan di kawasan tersebut.
Terminal yang layak juga dinilai penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat yang menggunakan jasa transportasi maupun para pedagang yang sehari-hari menggantungkan penghasilan dari aktivitas di kawasan tersebut.
Kini para pedagang menunggu tindak lanjut dari pemerintah terkait aspirasi yang mereka sampaikan. Mereka berharap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat segera turun tangan melakukan pembenahan agar Terminal Pilangsari kembali layak digunakan dan aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan terminal dapat hidup kembali.
Para pedagang berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada penyampaian aspirasi, tetapi berlanjut pada langkah konkret berupa perbaikan fasilitas. Bagi mereka, pembenahan Terminal Pilangsari bukan hanya menyangkut kondisi fisik bangunan dan jalan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan mata pencaharian masyarakat yang selama ini bergantung pada aktivitas terminal.
(**)
# Pewarta Pariyo Saputra #
Redaksi GNOTIF.COM

0 Komentar